Friday, February 23, 2018

Orang Yang Tepat

Assalamualaikum. 

Selamat sore. 

Alhamdulillah, akhirnya ngetik di laptop juga. Ngetik di HP emang praktis ya, tapi kurang nyaman. Akhirnya hari Jumat, nih. Rasanya nunggu banget pekan ini selesai. Pekan yang rasanya berat dan musingin. Sempat makin drama juga karena kabar gembira dari Pak Dokter Kandungan pekan lalu berubah jadi kabar duka. Efek gelisah, katanya. Disaat seminggu itu lagi dikasih penguat kandungan, saya malah nggak bisa ngontrol stress (bukan karena hormon ibu hamil, soalnya lagi ga hamil pun reaksinya mungkin akan sama juga). Jadi harus kembali bersabar menanti tanda - tanda si junior hadir. 

Hati makin patah ketika melihat suami juga jadi nggak ceria. Beliau masih tetep berusaha ngehibur saya, tapi ya, beliau mah ga bisa nyembunyiin perasaan. Sedih jelas tergambar. 

Kebayang perasaan orangtua, keluarga, dan terutama suami. Beliau pengen cepet punya anak. Orangtua kami udah excited menyambut. Ngerasa nggak berguna banget karena ngga bisa jaga kandungan. Huhu...

Ikhlas menjadi satu - satunya yang bisa dilakukan.

Ah, kali ini bukan mau bahas itu, sebenernya.  Tapi mau sedikit mengutip obrolan saya dengan seorang sahabat, soal hal lain.

Jumat lalu, saat liburan imlek, saya ikut temen - temen Satguna menyelenggarakan Tanginas. Salah satu jadwal rutin Satguna. Nggak banyak yang bisa saya lakukan di sana, tapi berada di tengah orang hebat, selalu dapat menjadi booster diri yang hebat juga.

Angkatan 7 hanya saya dan Teh Umi. Beliau anggota muda yang sangat dewasa. Saya suka merhatikan dan menyimak kata - kata beliau, karena berbobot banget. 

Obrolan kami dimulai ketika tiba - tiba Teh Umi berkata," Teh Wi, itu tuh, yang maju, dia atlet berkuda tingkat nasional. "

Saya menoleh ke arah yang ditunjukka oleh Teh Umi. Anak gadis bergamis hitam, dengan kerudung biru tua. Auranya bagus. Dia juga tampak tenang dan terkendali saat maju, ngantri giliran memadamkan api, saat mendekati sumber api, dan saat menutup kobaran dengan karung basah (Ini lagi simulasi kebakaran. Setiap anak diminta mencoba memadamkan api dalam drum dengan karung basah satu per satu). 

" Mereka kelas 10, kan? Hebat ih, umur segitu udah atlit nasional " Ujar saya takjub. 

" Iya, sama orangtuanya udah dilatih dari kecil. Tuh, keliatan kan gimana caranya ngatasin kepanikan. Keliatan banget lebih dewasa dari temen - temennya. " Lanjut Teh Umi. Saya menoleh ke arah anak yang lain. Ada yang jingkrak - jingkrak, ada yang berteriak, ada yang melakukan keduanya. Seulas senyum tersimpul. 

" Saya selalu iri teh, sama yang dewasa gitu di usianya yang masih muda. Dia bisa menjadi muslimah yang faham di usia muda. Enak banget. Pasti bersyukur banget di posisi itu. Saya mah sedih sendiri, kenapa di usia seperti dia saya nggak bisa begitu, ya? Hehe. " 

Teh Umi tersenyum. " Ya, orang kayak gitu ketemu orang yang tepat, teh. Kalau teh Uwi sama aku juga gitu dulu, ketemu orang yang salah dulu. Niru contoh yang ngga bener apalagi malah ngga ada yang bisa dicontoh ketika kita pengen ngelakuin sesuatu. " 

Saya menunduk. Tepat sekali kata - katanya. 

" Aku juga dulu gitu, pengen berubah tapi nggak tahu harus gimana. Belajar ke siapa, nyontoh siapa. Tapi aku sih terus berusaha. Niatnya, kalau nanti ada orang kayak aku dulu, aku bisa bantu dan mereka nggak bingung harus lari ke siapa apalagi ke yang salah. " 

Ih. Kata - katanya itu loh. Kayak nancep ke ubun - ubun banget. Ya walaupun kita nggak bisa lagi seperti itu, kecil - kecil cabe rawit, tapi setidaknya kita bisa mendewasa dan bisa jadi 'orang yang tepat' bagi banyak orang. Contoh terbaik memang Rasulullah. Tapi dari mana seorang yang baru melangkah tahu, jika tidak dari orang yang menurutnya bisa membawanya ke figur terbaik itu? Googling lalu salah tafsir? Udah, gitu aja?

Saya larut dalam pemikiran sendiri. Justru kalau saya nggak bisa mengendalikan diri, selain merugikan buat diri sendiri, juga buat orang sekitar. Bisa saja, ketika misalnya ada orang yang sedang menjalani prosesnya untuk mencari 'orang yang tepat' tersebut, dia melihat kita yang nggak bisa mengendalikan diri ini dan kemudian malah jadi nggak mau hijrah. Nggak mau jadi orang religius. Ada? Ada. Dulu saya seperti itu. Lebih parah lagi, ketika perilaku buruk kita malah menjadi contoh bagi yang lain. Bukankah itu dosa yang terus mengalir ke kita?

Ketika kita memunculkan image islami dengan pakaian kita, maka perilaku pun harus mulai mengikuti. Bertahap saja. Belajar saja. Setidaknya, bagi wanita, suatu hari kita akan menjadi contoh pertama bagi anak - anak kita. Ya, ayah juga. Tapi madrasah pertama bukankah seorang ibu? Relakah kita bila anak - anak kita menjadi buih di laut karena mereka tidak memiliki tempat bertanya dan contoh yang tepat dalam kesehariannya? 

Mari menjadi ' Orang yang Tepat ' ^_^

Friday, February 16, 2018

Quit

Assalamualaikum. 

Selamat siang.

Sambil mikir mau masak apa, saya mau cerita sesuatu. 

Saya bergabung dalam satu project kerjaan. Kami punya grup WhatsApp sendiri, terpisah dengan para staff. Grupnya sudah agak sepi karena member memang lagi pada sibuk semua. Jadi nggak ada tuh rumpi seru kayak dulu. Tapi hubungan kami masih sangat baik dan beberapa kali bertanya kabar.

Suatu hari, seorang partner mengirimkan screenshot percakapan beliau dengan bos kami. Pak bos minta dimasukkan ke grup WhatsApp itu. Mungkin beliau beranggapan, di grup itu rame. Karena di grup gabungan dengan para staff itu juga geng kami nggak aktif dalam obrolan.

Saya minta pendapat teman-teman dulu. Yang balas hanya satu orang dan beliau berkata jangan. Karena memang di grup lain itu semua member project tergabung dengan lengkap. Saya mengabaikan permintaan pak bos lewat kawan saya itu, hingga keesokan harinya pak bos meminta langsung pada saya. 

Saya dilema, sih. Kata teman-teman jangan, tapi sisi lain, beliau atasan kami dan mungkin ingin menyampaikan sesuatu. Dengan asumsi, grup geng itu semua member aktif berbicara. Tidak seperti di grup seluruh staff project. 

Saya fikir pak bos butuh banget dan harus banget ngomong langsung ke kami, mungkin nggak ingin diketahui staff lain (saya belum tau beliau mau bilang apa). Lagian juga, sebelumnya beliau udah pernah minta hal yang sama dan setelah apa yang mau dikatakan itu sudah tercurah, beliau akan left. 

Dengan pemikiran simple begitu, saya memasukkan pak bos ke dalam grup WhatsApp geng kami. 

Tiba-tiba...

Salah satu sahabat saya men-chat di grup sebelah (grup khusus cewek. Banyak banget ya pecahan grup. Haha) dan (dari intonasinya) beliau marah. Nggak suka. Ada sedikit kecewa dari kalimatnya. Dan menyalahkan juga soalnya diksinya sarkas. Hehe. Ngga tau sih kalo texting kan ambigu, ya. Saya freezing beberapa detik dan kemudian baru sadar kalau itu salah. Saya beristighfar mengingat sahabat saya itu super baik dan nggak  mungkin berfikiran seperti itu kepada saya. 

Namun kemudian...

Sahabat saya yang satunya menimpali dengan kalimat yang mempertegas asumsi saya. 

" Kayak masukin orang lain ke kamar mertua. " 

Saya mengerutkan kening. Udah pengen nangis. Haha. Kemudian saya mengingat kembali, dulu pernah kok pak bos masuk grup geng. Dan nggak sebesar itu masalahnya.

Sialnya, saya udah keburu down duluan. Nggak ada rasa marah atau kesel. Serius, nggak ada. Cuma kecewa sama diri sendiri. Ngerasa nggak bisa bikin temen-temen saya nyaman. Nggak bisa menyamai pemikiran mereka yang jelas lebih bijak. 

Sahabat-sahabat saya pasti punya pemikiran sendiri kenapa memutuskan nggak mau menerima pak bos dalam obrolan. Mungkin ada yang saya nggak tahu. Saya malah mikir, ada clash atau apapun itu antara teman-teman dan pak bos, yang membuat teman-teman (berkesan) menjaga jarak. 

Saya fikir udah sampe situ aja. Ternyata besoknya masih ada yang bahas. Saya sudah minta maaf dan ada yang bilang nggak  apa-apa. Tapi masih dibahas. Oh. Oke. Ini kesalahan yang nggak sederhana, fikir saya.

Saya nggak enak. Kemudian saya left dari grup cewek dan grup geng itu...

Rasanya nggak pantas deh saya yang berfikir sederhana dan naif ada bareng mereka. 

Terus yang bersangkutan japri, nanya kenapa saya left padahal dia udah bilang cuekin aja omongan sahabat saya itu. Dia tanya, "Ngerasa bersalah?" Saya jawab "Ngga." Karena memang da ngga ngerasa salah. Dia bilang cuekin aja omongan yang ga enak. 

Sedikit terhibur, tapi sahabat saya yang ini kemudian bilang, "Anggap aja (dengan kalimat itu) kita mukulin kamu karena masukin orang asing ke kamar."

Husnudzan saya luruh seketika. Kawan... Kalimatnya... =_=

Saya menghormati pak bos. Saya ngga ngerasa pak bos itu asing. Karena saya memang hanya aktif di project tersebut, sedangkan teman-teman saya yang lain aktifnya di banyaaaaak komunitas. Jadi mungkin bagi mereka, guru yang baik masih banyak di tempat lain.

Dalam pandangan saya, beliau salah satu orang dalam project yang banyak mengajari saya ini itu. Saya sangat bersyukur. Sekalipun kehadirannya dalam obrolan kami memang kurang bikin nyaman (da ngga bebas. Hehe.) Tapi saya ngga ngerasa punya hak untuk nolak kalo beliau pengen masuk grup, setelah ilmu dan pengalaman yang beliau berikan ke saya. Ngga ada alasan untuk antipati, terlepas dari ngga ada manusia yang sempurna.

Sayangnya, saya nggak punya kesempatan untuk menjelaskan ini ke teman-teman. Udah down duluan. Masukin orang asing ke kamar. Duh. Walaupun ngga selalu bermakna mau zina kan. Tapi tetep, asa hina banget aing. Hehe. Dan pak bos nggak left juga tuh. Oke. Saya salah mengira.

Tapi saya memang naif. 

Pola fikir dan IQ saya ngga sebaik teman-teman. Udah ah. Mundur saja. Kalau teman-teman memerlukan, insyaallah saya bantu. Tapi kalau diamanahi sesuatu, nggak deh. Nanti. Sayanya pinter dulu. Harusnya selalu menundukkan kepala.

Mohon maaf lahir batin, teman-teman. Terimakasih.

Monday, February 12, 2018

Jemputan

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Niat rutin blogging teh susah karena sinyal di kosan susah. Bisa pakai HP tapi kalau mau pake gambar nggak bisa. Sedangkan konten tulisan yang ada dalam kepala harus mencantumkan beberapa foto terkait postingan tersebut. Hasilnya, vakum lumayan lama ya. Sebulan lebih. Heheu.

Malam ini, masih ada waktu sebelum nanti mulai nyiapin Snack malam buat suami. Beliau baru pulang jam 23.00 dan biasanya minta camilan.

Sekarang mau cerita yang ringan saja. Sebenernya ini pengalaman tahun 2009 atau 2010. Saya lupa. Pokoknya ketika awal saya kerja di tempat kerja sebelum yang terakhir kemarin. Halah. Ribet. Sebutlah PT. C. Ga usah disebutin lah ya nama perusahaannya. Udah lama terjadi tapi kalau sekarang tiba-tiba ingat, udah nggak merasa sedih tapi pasti masih menghela nafas panjang.

Jadi, perusahaan menyediakan fasilitas bis jemputan untuk karyawan.

Hari pertama, saya nunggu jemputan lewat depan gang. Karena memang bisnya lewat tepat depan gang rumah saya, sehingga dalam bayangan saya ya naik dan turun di situ.

Ternyata, hari pertama kerja, setelah naik bis, pak sopir bilang, "Neng, besok naiknya di sebelah sana aja ya. Saya agak susah berhentinya soalnya Deket perempatan." Kata beliau ramah.

Saya mengiyakan. Memang sih, gang rumah itu Deket perempatan. Kalau bis udah nanggung di tengah akan susah minggirnya.

Hari kedua, saya nunggu jemputan tersebut di posisi yang diinginkan pak sopir. Jadi saya harus jalan kaki dulu sampai dekat Terminal Leuwi Panjang. Lumayan. Minimal 10 menit jalan cepat karena harus agak muter.

Saya tipe orang yang mending mandi terakhir saja daripada harus antri lama di kamar mandi dan kemudian harus terburu-buru membersihkan diri karena udah dirusuhin sama antrian selanjutnya.

Maklum, kamar mandi rumah kami cuma satu sedangkan penghuni yang harus berangkat sekolah dan kerja pagi-pagi ada 8 kadang 9 orang kalau paman saya lagi di rumah. Biasanya beliau di kosan sih.

Saya baru bisa pergi sekitar maksimal 5 menit dari jam bis jemputan lewat. Itupun sudah tanpa sarapan. Dengan rute muter begitu, pasti saya terlambat.

Awalnya pak sopir masih baik-baik saja saat saya minta nunggu (seingat saya sih nggak lama nunggunya juga) tapi lama-lama tentu kesal, ya.

Suatu hari, saat saya menjejakkan kaki ke atas  bis, pak sopir membentak saya sambil teriak, "Naha kabeurangan wae sih!"

Saya terhenyak. Saya nggak nyalahin kalau pak sopir kesal. Cuma ngerasa malu. Sangat malu. Jarak saya dengan pak sopir dekat. Dengan teriak begitu, seisi bis seketika menatap saya dengan tatapan tak terdefinisi. Mungkin kaget juga.

Saya nggak bisa ngomong. Cuma duduk lalu nunduk. Jangan nangis... Jangan nangis...

Saya ngerasa nggak adil. Karena ada juga yang sering telat, rasanya lebih sering dari saya, tapi pak sopir happy saja. Malah saling melempar canda dengan orang yang sering terlambat itu. Berbeda dengan saya yang selama beberapa bulan itu sama sekali nggak pernah ngomong apa-apa dengan pak sopir. Karena saat  itu memang saya super  ngga banyak ngomong. Tapi rasanya nggak judes juga kok...

Saat itu saya berfikirir, oh, asal Deket sama orang lain, maka tingkat toleransi kesalahan akan lebih tinggi. Buktinya, kalau sering ngobrol dan bercanda, apalagi kalau sering bagi makanan, ketika terlambat sesering apapun juga pak sopir tetap ramah.

Saya dididik dengan "muhun-muhun attitude" alias apapun kata orang, harus saya penuhi. Nggak ada pembelaan diri dan nggak boleh mikirin harga diri. Harus iya saja (semestinya hanya pada keluarga terutama pada orangtua dan kakek nenek saja tapi kebiasaan ini terbawa keluar keluarga). Saat itu saya cuma diam. Menunduk sambil berusaha nggak nangis. Menyimak gurauan pak sopir dengan teteh yang sering terlambat itu.

Sejak saat itu, saya ngga cuma jalan cepat tapi betul-betul lari dari rumah ke tempat penjemputan.

Rasanya apa banget, kerja di tempat dan bidang yang nggak diinginkan tuh harus sampai segitu diusahakannya.

Akhirnya saya berfikir. Ketika kalkulasi saya berkata saya akan terlambat, saya naik angkot motong jalan nyegat bis jemputan daripada meminta bis menunggu saya. Karena bisnya lewat Pagarsih dan masuk tol pasir koja jadi saya langsung nunggu di pintu tol atau ikut mobil perusahaan S yang Deket PT. C tapi cuma beda gerbang saja karena masih nggak enak ketika ada temen satu jemputan nanya, kenapa saya sering terlambat? Ada apa? Nanya baik-baik dan lembut sih tapi saya nggak jawab. Bingung ngomongnya =_=

Kemudian, bertahap keberanian saya menempuh jarak jauh makin  tumbuh. Saya berani naik bis umum dengan padat penumpang. Atau naik apa saja. Berdesakan. Asalnya takut banget karena nggak dibiasakan perjalanan jauh sendiri apalagi naik bis yang padat penumpang tapi lama-lama jadi berani.

Modal nekat karena memang saya nggak tahu jalan. Nggak tahu daerah situ karena bis jemputan selalu lewat jalan tol.

Karena nggak mau lagi jadi beban orang lain. Nggak mau dibentak siapapun. Bodo ah. Ongkos transportasi habis banyak tapi nggak ada yang bentak saya. Hingga sekitar kurang dari satu tahun sejak saya mulai kerja, pak sopir resign dari PT.

Di hari terakhirnya, beliau duduk di samping saya di bis jemputan. Saya mikir, gimana caranya kesan terakhir adalah hal yang baik? Dengan tegang, saya tawari permen dan beliau Nerima sambil agak guyon dan tertawa.

Alhamdulillah sopir pengganti lebih ramah dan sabar. Saya juga lebih nyaman dan anehnya jadi malah lebih memaksakan diri untuk nggak mengecewakan orang sebaik itu dengan datang lebih dulu ke tempat penjemputan sebelum bisnya tiba.

Mendobrak kebiasaan dan rasa takut 'hanya' butuh dorongan untuk mau melakukan hingga akhirnya keberanian terpupuk dan tumbuh subur menyingkirkan takut ini itu. Ketika hal negatif terjadi, mungkin kaget, mungkin kecewa dan sedih. Tapi itu bisa kita jadikan pemicu. Pokoknya gimana caranya, bla bla bla...

Ketika berhadapan dengan orang yang sabar dengan kita, rasanya seperti tertantang untuk memperbaiki kebiasaan buruk dan nggak mau mengecewakan.

Awalnya saya bersikukuh naik bis itu karena saya berfikir itulah satu-satunya cara ke tempat kerja. Padahal masih banyak kok cara lain. Entah kenapa menyadari cara lain tersebut butuh waktu cukup lama bagi saya. Kadangkala terlalu fokus pada satu jalan membuat kita nggak melihat jalan yang lain sih, ya.

Padahal Allah udah ngasih banyak kemudahan tapi karena kita terlalu fokus sama yang susah, malah jadi nggak maju. Malah jadi beban. Nggak cuma buat diri sendiri tapi mungkin juga buat orang lain.

Bisa saja nih, dalam kesulitan yang lagi dihadapi, sebenarnya jalan keluar sudah ada dan dekat tapi kita nggak peka dan nggak mau cari alternatif. Nggak ada plan B. Keukeuh pake plan A yang kadang tampak lebih mudah padahal sebenernya nggak cuma rumit tapi juga lebih membebani.

Padahal plan B, C, dst bisa lebih membuahkan hasil meskipun harus berusaha lebih. Kadang lebihnya cuma dikit. Hehe...

Semangaaat! Mari jadi orang yang peka 😝

Sunday, January 7, 2018

2018

Assalamualaikum.

Selamat siang.

Duh udah lewat seminggu di tahun 2018, ya. Selamat tahun baru, semuanya!

Semoga tahun ini lebih baik lagi dari tahun kemarin, ya.

Punya resolusi apa?

Saya mah simpel aja.

1. Gunakan gawai seperlunya. Soalnya masih kebiasaan ya, gatel kalo ga pegang hape. Padahal ngga ada apa-apa juga. Terutama di rumah ni, jangan sampe quality time sama suami dan keluarga keganggu sama hasrat maenan hape.

2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Ini pasti. Udah nikah jangan malah mlehoy. Disimpennya kok nomor dua wi, ibadah kan harusnya no 1? Iya, ini mah urgensi dalam penilaian saya, sih. Karena ibadah umumnya keganggu sama gawai juga. Doakan ya.

3. Productive House wife. Aamiin...

4. Nulis! Wkwkwk disiplin nulis lagi walau ga ada yang apresiasi. Untuk menjaga kewarasan. Haha. Dapat tips dari Raditya Dika dan Kak Alodita, biasakan nulis minimal 15 menit sehari. Insyaallah.

5. Prestatif

6. Nonton minimal 1 video ceramah di YouTube.

7. Hidup lebih sehat. Sehat aja dulu. Badan bagus mah bonus. Kasian suami diejek mulu sama temen-temennya karena fisik saya (+_+)

8. Belajar masak

9. Self development lebih baik.

10. Lebih bermanfaat bagi orang lain

Itu aja sih. Ga indah. Haha. Biarlah. Uyuhan ini juga. Semoga yang kita semua harapkan bisa terwujud, yaaa!

3 bulan

Assalamualaikum.

Selamat siang.

Hari libur terakhir, nih. Sebagian besar mungkin udah masuk ya sejak tanggal 2 Januari atau 8 Januari ini. Suami saya besok baru masuk kerja. Saya sih udah resmi resign dari tempat kerja sejak tanggal 29 Desember 2017. Karena di tempat kerja nggak boleh pasutri kan ya dalam satu perusahaan.

Banyak banget yang bertanya, mau bagaimana setelah resign? Apa nyari kerja lagi atau di rumah saja? Sejujurnya, saya belum punya rencana pasti. Biasa deh, ngga berani berencana panjang. Ga siap dengan hal yang buruk yang ngga sesuai rencana. Suami yang demokratis memberi saya kebebasan memilih, tapi bagi saya yang biasa disaklekin jadinya makin labil harus ngapain. Heheu.

Jika saya melamar kerjaan lagi, nanti keburu hamil dan takut jadi banyak izin seperti temen- temen yang hamil di tempat  kerja lama. Quality time dengan suami juga pasti minim banget. Tapi kalau menjalani di rumah gitu aja juga rasanya wasting time. Rencana lain, aktif di organisasi volunteer itu tapi biasanya yang dapat misi orangnya itu lagi itu lagi. Saya sadar kompetensi diri sih jadi ya gapapa. Cuma secara logika saya, saya akan jadi kurang produktif juga dan progress pengembangan diri juga ga bakal signifikan banget. Tapi tetep, ilmunya mah banyak. Semoga nanti dapat kesempatan lebih.

Ah bingung. Haha.

Pernikahan kami hari ini genap 3 bulan. Nano nano banget rasanya. Ketika banyak kebahagiaan, saya suka mbatin, " Berapa lama ya, kebahagiaan ini akan bertahan? "

Masa-masa awal pernikahan yang super indah, banjir rejeki, banjir kasih sayang. Saya yang seperti ini bisa punya suami seperti beliau itu rasanya ga pengen berhenti ngucapin hamdallah T.T

Bohong kalo kehidupan ngga pernah diuji. Saya dan suami pun gitu. Walaupun Alhamdulillah jarang ada ujian yang semacam marahan gitu gitu tapi saya tetep khawatir suami saya kehabisan kesabaran ngadepin anehnya saya. Haha.

Adaptasi dan tentu proses belajar yang kontinyu dan panjang masih harus dilakukan. Peran baru, tantangan baru, ibaratnya keluar dari zona nyaman lah, ya. Biasa hidup sudah tinggal patuh karena mama yang menentukan ini itunya dan saya biasa berlindung di belakang papa ketika kehidupan ngga sesuai rencana, sekarang harus narik ulur diri untuk kapan berada di belakang suami, didepannya, dan disampingnya. Menghadapinya bersama-sama.

Oh satu lagi, proses pengenalan karakteristik masing-masing. Setelah nikah, banyak kejutan ya. Baru tau lebih jauh pasangan kita seperti apa. Suami saya baru tau lebih banyak seperti apa saya dan begitupun sebaliknya.

Kesulitannya bagi saya, menjaga ego. Haha. Ketika kita (merasa) tahu yang terbaik tapi suami memiliki opsi lain yang sebenernya lebih baik. Dikuatin biar ga maksa. Begitupun sebaliknya. Suami saya juga tentu kuat banget menjaga kesabarannya. Soalnya kalau ngga pinter ngontrol, hal kecil tentu jadi keributan kan.

Seperti cara menyimpan sayuran di kulkas atau di suhu ruang saja, misalnya. Pakai plastik atau dibiarkan di udara terbuka. Hal ini aja beda loh antara cara saya yang saya dapat dari mama, dan cara beliau yang beliau dapat dari mamanya.

Selera masakan juga. Beliau suka rasa yang berani kayak kalo manis ya manis aja banyak kecap sedangkan saya suka yang asin. Kalo makanan manis tetep aja kecapnya dikit. Tetep enak asin gurih. Sering beliau makan masakan asin tapi tetep bilang enak. Haha. Saya imagine dan ngerti sih kalo jadinya beliau kangen banget sama masakan mamahnya tapi Alhamdulillah beliau super sabar dan ngasih saya kesempatan belajar masak lebih banyak.

Intinya, komunikasi. Jangan berharap pasangan kita bisa baca fikiran kita begitu aja. Apa yang kita ucapkan belum tentu bisa difahami juga apalagi yang nggak diucapkan, kan. Kalo sekiranya emang baik, walaupun pahit, ucapkan saja. Apalagi ketika kita udah tahu nih pasangan kita teh akan lebih faham kalau kita menyampaikan sesuatu dengan cara A, misalnya. Sekaligus ketika sudah tahu nih, pasangan kita akan bereaksi seperti apa. Kan enak ya, nggak usah sungkan lagi. Kan sudah bukan orang lain.

Disini saya belajar lagi, gimana mengungkapkan argumen. Belajar dari video - video ceramah ust Khalid Basalamah bermanfaat banget, lho. Walau kadang suka lepas kontrol juga, saya menyampaikan to the point ke suami dan tentu beliau nggak ngerti. Hadeh. Maafkan istrimu, a. Bimbing w belajar lagi 💕

Semoga kedepannya rumah tangga ini semakin baik, semakin bahagia, berkah dan bisa menyebar kebaikan ke sekitar kami.

Bimbing uwi ya, a. I love you.

Wednesday, December 20, 2017

Lagi Nggak Sehat

Assalamualaikum.

Selamat sore.

Seharian ini Bandung mendung diiringi gerimis sesekali. Semoga nggak ganggu aktivitas temen - temen, yaa!

Hari ini saya nggak enak badan. Aneh, sering sekali sakitnya. Sejak pulang dari Papandayan (cerita trip ini Insya Allah nyusul, yaa!), rasanya nggak enak badan terus. Badan kaku banget plus sakit kepala. Weekend lalu malah dibumbui drama masuk IGD karena nyeri perut bawah segala. Bikin suami, mertua, dan teteh ipar jadi panik. Masa sih jetlag? Masa sih masih capek? Asa udah ampir sebulan yang lalu deh campingnya. Tiga minggu tepatnya.

Muka juga super kusam. Jerawatan lagi. Rambut jadi nggak jelas teksturnya. Kasihan sama suami, ngeliat yang ancur begini tiap hari. Kalau temen - temennya lihat pasti beliau kena ejek lagi, deh. Yah, becandaan aja tapi tetep ya ga etis rasanya. Banyak hal lucu yang nggak pantas jadi tertawaan. Salah satunya, fisik seseorang.

Minggu lalu, alarm hati saya berdering keras. Ngasih tanda kalau saya dan suami sering (bahkan hampir) setiap hari mengonsumsi makanan yang nggak sehat. Oh oke, bukan karena perjalanan ke Garut, tapi karena makanan yang nggak sehat. Ini jelas ngaruh.

Ke dokter, udah. Tapi kan dari duluuuuu juga setiap ke dokter, dokter nggak bisa menentukan saya sakit apa. Nggak jelas diagnosanya. Kecuali dokter Lie Us. Beliau bikin saya percaya lagi sama yang namanya dokter. Usia remaja - dewasa baru bisa nemu dokter yang ketika sakit bisa ngasih saya kejelasan saya sakit apa. Sekarang dokter Lie Us nya jauh. Jadi ya mau gimana lagi. Diobatin sendiri saja deh.

Di usia sekarang, kerasa banget efeknya ya, temen - temen. Zaman masih muda dulu, katakanlah di bawah 25 tahun, rasanya makan apa aja nggak ngaruh ke kesehatan. Saya tetep fit ngapa - ngapain kecuali kalau lagi stress. Lagi ga bisa ngendaliin fikiran dan kecemasan. Pasti sakit sih kalo ini.

Makan nggak teratur, makan pedes, hujan - hujanan, lari naik turun bis, dan lainnya nggak berasa apa - apa. Sekarang mah beda. Faktor usia memang nggak bisa dusta.

Nggak enak banget ya, temen - temen. Izin kerja terus, uget uget dikit langsung capek, lemesan, minta pijit terus, pengennya rebahan doang…

Nyiksa!

Jadi berdasar ilmu titen, berikut faktor yang memengaruhi kesehatan saya :

Fikiran
Semua udah pada tahu, kalau kekuatan fikiran itu dahsyat. Kayak di film The Secret gitu lah ya salah satu contohnya mah. Yang saya rasa, ketika fikiran nggak terkontrol, saya mudah banget sakit. Apalagi sakit kepala. Saya rasa, kalau hal ini bukan cuma saya aja ya yang begini. Hihi.

Banyak cara untuk menjaga fikiran kita tetap sehat, jernih, dan tenang. Salah satunya adalah tilawah Al - Quran dan shalat khusyuk. Shalat saya belum bisa khusyuk sih tapi setidaknya walaupun demikian, saya berusaha menikmati shalat itu sendiri saja dulu. Agar shalat nggak jadi sekedar ritual. Kalau nggak terkondisi untuk melakukan kedua hal itu, dzikir insya Allah jadi penentram yang dahsyat juga. Kalimat - kalimat sederhana yang bermakna luar biasa. Bahkan bertakbir satu kali saja bisa membuat kita tenang dan siap menghadapi tantangan, bukan? Entah saya yang lebay atau bagaimana, tiap baca al - quran rasanya pembuluh darah di kepala jadi melebar. Nggak nyelekit sakit kayak sebelumnya. Relaks banget deh. Selain itu, kadang beres - beres rumah juga menenangkan fikiran saya. Siapa yang nggak suka rumah bersih, rapi, dan wangi kan ya?

Ketika nggak bisa tenang, coklat panas atau teh manis juga ngaruh di saya. Kalau kopi malah jadi bikin gelisah. Kayak nunggu hari gajian padahal uang udh menipis banget. Haha. Oiya, bagi yang sudah menikah, nyungsep di pelukan suami juga jadi penentram fikiran yang efektif! Betul kan, ibu - ibu? He he…

Makanan yang nggak sehat
Siapa yang doyan jajan? Yuk, kita ngacung bareng - bareng. Haha. Saya bersyukur tinggal di Bandung. Kota yang kulinernya lengkapppp! Makanan bisa kita dapatkan dengan mudah dan beragam. Sejak 3 tahun yang lalu, saya mulai mengenal banyak cafe, resto, dan makanan ini itu. Nggak cuma masakan mama, indomie rebus, atau bakso depan komplek saja. Saya nggak mikirin sehat atau nggaknya, makan aja. Hajar aja. Efeknya? Sejak dua tahun terakhir saya jerawatan. Lebih cepat lelah dan mengantuk juga saya rasakan. Signifikan, loh!

Sejak menikah, memang saya memasak makanan kami sendiri. Tapi masih belum berdasarkan pola makanan sehat. Hampir ada protein hewani setiap hari. Entah ya, tapi setahu saya itu nggak baik. Jam makan juga nggak dijaga. Jelang tengah malam sekalipun, kalau lapar, tancap gas ke dapur. Hadeh…

Makan sayur sudah, buah sudah. Cuma suami selalu ngomel karena saya menolak makan lalapan dan baru semangat sama buah kalau itu dijus atau pisang. Buah lain ribet. Harus di jus dulu. Hehe. Padahal sayuran hijau yang diolah pasti saya mau makan. Malah kalau di rumah mamah, nggak ada sayur biasanya nggak semangat makan.

Minum segala macem vitamin dan madu sudah saya lakukan. Tapi paling efek segernya 3 hari. Sampai sebulan berturut - turut pun, nggak bakal semaksimal awal penggunaan. Apakah itu resisten? Masa sih…

Minuman bergula
Dulu saya hanya kenal air mineral. Nggak pernah minum minuman kemasan yang warna warni, aneka rasa dan aroma itu. Nggak kabita aja. Sekarang berubah banget, jadi jarang minum air putih. Efeknya? Yah, tahu mereun yah.

Padahal saya punya resiko diabetes yang besar. Tapi ngejaga asupan makanan dan gula itu kok ga concern? Huwaaa!

Jam tidur
Sejak ngalamin yang namanya kerja malam tahun 2009an lalu, pola tidur saya kacau. Belum lagi saat itu baru kenal internet lebih jauh dari sekedari Facebook. Ya udah, deh. Tidur rasanya nggak penting. Padahal, nanti udah tua pasti menyesal. Nggak nunggu tua, deh. Sekarang aja menyesal. Huhu.

Saya pernah nyeri kepala hebat dan sampai harus di CT scan. Tapi sebelum itu, Allah negur saya. Ternyata karena saya jarang tidur. Serius. Bisa tidur di bawah jam 12 aja bawaannya pengen bikin tumpeng selamatan. Kata Kak Mima, sehari nggak tidur baru terganti dengan 24 jam tidur! Uwooo! Dikali berapa tahun, jadi berapa jam, tuh?

Padahal badan punya hak istirahat, lho. Masa dzalim sama diri sendiri, ya. Kan nggak ngerjain apa - apa juga. Mending kalo begadang ada perlunya kayak yang dibilang Bang Haji Rhoma Irama.

Badan nggak sehat, tahajjud terlewat, shalat shubuh telat. Haduh.

Mandi malam hari
Ini mah kebiasaan banget sejak kerja di sini. Apalagi sejak masuk kuliah, duh. Udah weh nggak kenal jam berapa pasti mandi air dingin. Mamah dan Amma sering banget negur tapi alasan saya selalu sama, nggak bisa tidur kalau badan masih lengket dan air anget bikin badan gerah. Nggak seger. Nggak berasa mandi. Dan kebiasaan ini berlanjut sampai sekarang.

Olahraga
To be honest, saya love - hate relationship banget sama yang namanya olahraga. Kalau lagi pengen, bisa mati - matian dan kalau lagi nggak pengen bisa males banget. Seringnya mah ga pengen sih… *mintadihajarbanget

Managemen waktu
Nah, siapa yang lagi kerja pengen libur dan lagi libur tetep mikirin kerjaan?
Saya harap kedepannya bisa lebih tumaninah, ya. Waktunya kerja ya kerja, waktunya liburan ya liburan.

Dulu saya terbantu sekali dengan kebiasaan mengagendakan sesuatu. Rinci dan runut. Walaupun nyatanya harus sangat banyak berkompromi dengan realita, ya. Misal kita maunya kerjakan A, tapi lingkungan mengharuskan kita kerjakan B. Saya sering kesel. Pengennya tetep sesuai jadwal aja. Tapi ya gimana kita makhluk sosial, kan? Mau ga mau harus toleransi. Harus kompromi. Walaupun seringnya jadi nggak tercapai tuh poin - poin yang diagendakan dan berakhir dengan maksain untuk ikhlas. Yha!

Aktivitas berlebih
Zaman muda, aktivitas saya banyak. Serius. Asli. Due to pengen jadi anak patuh, ya saya kurangi dan pangkas agenda ini itu. Sampai akhirnya jadi gaje kayak sekarang. Haha. Hidup ngalir gitu aja nggak enak loh, teman - teman. Ngerasa nggak ada tanggung jawab raih sesuatu. Katanya, kebiasaan aktif jadi pasif bikin seseorang jadi stress dan berujung ke poin pertama bahasan ini. Masa?

Kayaknya mah iya.

Shaum
Paling PR buat saya sebenernya ini, sih. Sejak kerja di sini, yang mana itu sudah hampir 6 tahun, saya super jarang shaum. Terutama sejak 3 tahun terakhir. Nggak kuat kalau shaum. Di jalan pasti lemes. Sempat masuk rumah sakit di hari terakhir Ramadhan karena lemas banget dan ternyata tekanan darah drop ke 60/40. Opname dan menikmati malam takbiran plus idul fitri di rumah sakit. Shaum sunnah juga belum dilakukan lagi. Padahal kerasa perbedaannya dari yang suka shaum ke nggak pernah shaum lagi. Uh :(

Mungkin ada yang bilang, ini cuma alasan saya. Saya pasti bisa kalau saya mau. Mungkin benar, mungkin tidak. Bisa dan mampu berbeda, bukan? Saya bisa, hanya sekarang belum mampu. Doakan saya mampu, ya!

Kalau temen - temen, biasanya sakit karena apa?
Saya sudah tahu alasan saya mudah sakit, tinggal mengubah habitnya. Butuh perjuangan. Doakan. Buat temen - temen yang sehat, bersyukurlah banyak - banyak karena nikmat kesehatan biasanya nggak kita pedulikan. Stay healthy!

Friday, October 20, 2017

Sudah Menikah

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Udah hampir sebulan ya, saya nggak posting. Sebenarnya sih banyak banget yang mau saya ceritakan. Tapiiii menjalani peran baru sebagai seorang istri itu nggak mudah, ya. Yup. Hari ini saya genap dua minggu menjadi seorang istri. 

Kefikiran sih, bikin label baru yang isinya kehidupan saya sebagai seorang istri. Haha.

Tulisan ini saya ketik dengan rasa yang berbeda. Biasanya sendirian, sekarang ditemenin sama sosok laki - laki yang saya gelari 'suami'. Yang keukeuh pengen tau, pengen baca, pengen liat saya ngetik. Pan jadi ge er yahhh >_< Judul aneh itu juga atas ide beliau. Haha.

Saya dan suami masih sama - sama belum merasa sudah menikah. Masih merasa lajang saja. Karena proses kami yang memang nggak saya - kami - sangka akan membawa kami sampai ke titik ini. Banyak pihak yang kaget dan nggak nyangka juga, saya akan berjodoh dengan dia. Dia akan berjodoh dengan saya. Karena memang, walaupun kami bekerja di bawah label yang sama, bisa dikatakan kami ini nggak pernah berinteraksi dalam pekerjaan. Apalagi di luar pekerjaan. 

Saling nggak merhatikan, nggak pedulikan, hingga akhirnya tangan Allah bekerja.
Yang nggak bisa saya abaikan pula (karena jujur, ini juga jadi salah satu bagian seru), ketika banyak orang terkaget - kaget dan nggak nyangka akhirnya saya yang selama ini anti pernikahan bisa memutuskan untuk menikah juga dan tanpa kabar apapun tahu - tahu sebar undangan. Semacam menjilat ludah sendiri, sebenernya. Saya juga nggak ngerti kenapa bisa mantep nikah sama beliau. Saat itu nggak ada perasaan apapun. Cinta, sayang, gak ada. Yang ada hanya satu : YAKIN.

Mereka bertanya, gimana prosesnya kok bisa sampe nikah?

Saya selalu menjawab dengan jawaban berbeda - beda. Haha! Abis, bingung atuh, jawabnya gimana. Semua terjadi nggak disangka - sangka. Jadi nggak saya nikmati dan saya perhatikan tiap detil prosesnya. Pokoknya kurang lebih seperti itu :p

Mungkin awalnya ketika saya masih diklat Satguna. Sebelum itu, saya berfikir bahwa menikah hanya sebuah ikatan legal untuk saling menyakiti saja. Buat apa harus repot ngurus anak orang lain (pasangan) bila akhirnya akan disakiti? 

Ngga, bukan. Bukan saya pesimis. Tapi itu realita yang sering saya temui di sekitar saya. Banyak pasangan di sekitar saya yang disakitin pasangannya. Ada yang diselingkuhi, tidak dinafkahi, KDRT, tidak diakui, disia - siakan, dan sejenis itu. Coba, sebelah mana indahnya?

Saya tahu kok, pernikahan itu separuh agama. Mitsaqan ghalidza. Tapi proses saya belum sampai mengimani itu. Baru sebatas tahu saja. Bodo amat. Pokoknya nikah itu menyakitkan. Titik.

Segalanya betul - betul berubah, sejak saya sering menyimak teman - teman Satguna 7 diskusi soal menikah. Saya bertanya pada mereka, apa sih yang membuat mereka segitu pengennya nikah? 

Apakah saya mendapatkan jawaban yang membuat saya yakin?

Tidak. 

Mereka masih menjawab dengan jawaban subjektif. Saya sangsi, ah. 

Tapi ya, bagi Allah mah mudah banget membalik hati saya. Saya hanya berdoa, " Ya Allah, Gimana caranya bikin Allah sayang sama saya, dan saya sayang sama Allah, akan saya lakukan. Termasuk menikah. Uwi percaya sama pilihan Allah. Uwi nurut. Bismillah, sami'na wa atho' na."

Mungkin itu adalah doa pertama saya setelah sekian lama nggak mau bahas jodoh sama siapapun, termasuk sama Allah. Bertahun - tahun udah nggak mau doa soal jodoh. Tapi da hati mah Allah yang menggerakan, kan. Tiba - tiba aja pengen doa itu. 

Nikah memang menakutkan buat saya. Tapi lebih takut kalau nggak diakui Rasulullah di akhirat nanti. " Nikah adalah sunnahku. Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku, maka tidak termasuk dalam golonganku. " (Al - Hadits, mohon koreksi redaksinya). 

Saat itu, saya masih punya pacar. Yup, saya pacaran sama yg onoh selama setahun lebih. Itu sih tapi putus nyambung. Tapi sekarang dididik di Daarut Tauhiid, jadi udah nggak boleh sama lagi sikapnya terhadap sesuatu yang nggak jelas baik nggaknya. Jadilah saat itu, saya tegas sama dia. Eh, nggak dapat jawaban. 

Duh, gimana ya, kan nggak mau kalo ngga jelas. 

Menjawab kegalauan, Allah nunjukin cara unik lagi. Ditunjukkanlah mana yang terbaik. Alhamdulillah, walaupun sakit, kami berpisah. Saya memisahkan diri. Saya memutuskan bahwa saya sangat pantas dapat yang lebih baik dari dia. Bersama orang yang dengan bersamanya, surga terasa lebih dekat...

Ihiw.

Nggak ada air mata. Nggak ada kebencian sama dia. Yang ada benci sama diri sendiri. Kok bisa, dijanjiin komitmen serius, dan percaya. Ditinggal lama dan percaya lagi ketika dia kembali. Ish! 

Hanya hamdallah dan istighfar yang terus terucap. Bersyukur dijauhkan dan mohon ampun atas semua kekhilafan. Entah ya, itu momen - momen yang rasanya saya pure pasrah dan percaya sama Allah. Satu fase yang super susah saya rasakan. Cuma modal inget terus kata - kata ustadzah Siti Sumarni, " Belajar husnudzan, wi. Sama Allah, sama diri sendiri, sama orang - orang di sekitar. " Nuhun, Ustadzah...

Saya kembali pada kegalauan saya. Yup, selalu galau. Bukan karena jomblo, tapi karena makin nggak tahan sama omongan orang.

Yang nyindir, yang ngejek, duh. Bahkan yang sekedar kepo aja ngerubung ga jelas. Ternyata ngerubung teh hanya untuk kepo saja. Pas undangan disebar dan resepsi di helat, para kepoism nggak nyumbang dana tuh. #eh...

Udah ga tau lagi harus apa, saya menimbang-nimbang ikut biro jodoh saja. Tapi hati menolak. Jadi setengah-setengah. Sempat juga kefikiran, " Nyari yang mau nikah kontrak di mana, ya? " Atau juga " Misal ada penyuka jenis yang perlu nikah untuk nutupi statusnya juga gapapa deh. Saya mau. "

Bukan karena saya segitunya ngebet nikah, tapi karena rasanya ngga sanggup lagi ditanya terus kapan nikah? Undangan mana? Duh!

Semua terjadi di pekan pertama Ramadhan 2017. Secara ajaib, pekan kedua di bulan yang sama, seseorang yang baik datang. Seseorang yang sesungguhnya nggak meninggalkan kesan apapun sejak kami berkenalan (Kami berkenalan saat ada bahasan pendakian ke Semeru. Ya, kami sama - sama suka naik gunung, sih), namun tiba - tiba meninggalkan jejaknya ketika saya tahu bagaimana usahanya menghalalkan gadis yang dia idamkan. Sampai mengalami hal yang buruk seperti itu. Punten, saya nggak ceritakan di sini karena menghargai kisah beliau. Yang pasti, saya kagum. Tapi nggak saya ungkapkan sih. Didalem hati aja.

Kemudian beliau bilang, " Yang sedang saya perjuangkan itu teteh. Saya mau serius sama teteh.. " 

Saya nggak bisa bilang apa - apa. Cuma balas dengan emoticon nangis saja. Setelah khitbah dilakukan, saya baru tahu ternyata beliau sudah ngepoin instagram saya sejak sebelum berkenalan tapi belum lihat wujud saya seperti apa. Hanya berfikir kami akan cocok, karena menilai dari postingan - postingan saya di IG. Zaman itu saya masih nggak pede pajang foto sendiri. Kasian nanti yang lihat jadi mimpi buruk. Hehe.

" Kalau memang serius, akhir minggu depan saya minta aa datang ke rumah. Biar kenalan sama keluarga. "

Saya menguatkan hati. Kali ini sungguh membersihkan segala harapan sampai kosong sama sekali. Berusaha meluruskan harap. Bener - bener pasrah ke Allah. Kesungguhannya terbukti. Dia datang. Kami berbuka shaum bersama. Dengan mama dan papa. Tapi belum ada obrolan ke arah serius. Saya masih memerkenalkan beliau dengan sebutan 'teman'. Tapi tentu orangtua udah tahu maksud dari 'teman' itu.

Respon orangtua positif. Saya lanjutkan dengan istikharah sambil memperkenalkan diri lebih jauh. Termasuk menjelaskan fakta, bahwa saya ini anak aneh yang suka hal - hal mistis. Tapi ternyata beliau lebih aneh karena nggak ilfil pada keanehan saya itu. Lalu  tantangan saya lontarkan, " Kapan uwi bisa ke rumah aa? " 

Jadilah pekan terakhir Ramadhan saya berkunjung ke rumah beliau untuk pertama kali. Buka bersama keluarga beliau dengan perasaan nggak menentu. Aneh. Jika memang saya nggak berharap, semestinya nggak ada perasaan seperti itu. Ya sudah, berkunjung aja kan. 

Ternyata, respon keluarga beliau positif pula. Lega. Alhamdulillah. 

Tetap saja, ada minder yang luar biasa. Rasa takut nggak diterima, nggak bisa membahagiakan. Ketika selama ini yang ada hanya rasa takut nggak dibahagiakan, kali ini berbalik, gimana kalau saya nggak bisa membahagiakan beliau? Disinilah saya sadar, ego saya roboh. Nggak melulu mikir apa yang bisa saya dapatkan seperti sebelumnya. 

Ketika menyamakan persepsi, visi, misi, dan diskusi berbagai hal, rasanya makin cocok saja. Makin nyaman, hingga saat beliau ingin silaturahmi ke rumah di hari kedua Idul Fitri, saya mengiyakan.

Beliau melamar saya pada papa ketika saya ada di dapur. Jadi saya nggak tahu tepatnya apa yang beliau bilang. Tiba - tiba aja kedenger suara papa bilang, " Ya, Papa mah gimana anak - anak aja. Sok. Nggak minta apa - apa papa mah. Semampu aa aja. " 

Saya refleks nongol dari dapur. " Ngomongin apa sih? " 

Aa hanya menunduk sambil senyum, begitupun papa. Tapi senyum papa mah tengil. Mencurigakan. " Nggak apa - apa. " Kata Papa. Saya nggak percaya. 

Hingga akhirnya aa pulang, papa baru cerita di depan saya, mama, dede, dan kakak sepupu saya dari Tual. Kak Hasna. 

" Itu, minta izin mau serius. " 

Duh, entah kenapa kok rasanya pengen nangis, campur aduk. Antara takut cuma harapan kosong seperti sebelum - sebelumnya, takut iya serius tapi disuruh nunggu nabung dulu, takut ini... takut itu...

6 Juli 2017, beliau menjemput saya dari rumah Bu Oto. Saat itu sedang berlangsung acara siraman Mpit. Saya dijemput, dipertemukan lagi dengan Mama beliau lalu kami beli mahar nikah bersama-sama. 

Saya masih ga yakin beliau serius. Sejak itu, setiap weekend kami maksimalkan untuk persiapan pernikahan. Beli seserahan. Saya masih nggak cerita pada siapapun karena masih yakin akan ada apa apa yang menggagalkan di tengah proses. 

Sampai akhirnya seserahan selesai dibeli semua dan uang untuk resepsi diberikan mamanya pada mama saya.

Rasanya semua instan. Sekitar 2 atau 3 bulan saja. Tapi masih ada ketidakikhlasan ketika keluarga beliau menentukan bulan Desember untuk akad nikah. Malam itu, setelah udah lama nggak tahajjud, saya bangun dan refleks mengambil wudhu. Doa saya malam itu cuma satu, " Ya Allah, nikahnya Oktober aja. "

Hanya satu kali kalimat itu saya ucapkan, tanpa adab berdoa yang baik pula, tapi Allah menjawabnya. Cash.

Aa dapat rizki tak terduga. Ini beliau sampaikan ke saya pagi hari setelah semalam saya berdoa singkat itu.

Rencana akad nikah yang awalnya bulan Desember, dimajukan dua bulan. Oktober. Alhamdulillah. 

Disitu saya baru sadar, selama ini saya berdoa minta didatangkan pria yang serius sama saya. Padahal semestinya (mungkin akan lebih baik kalau saya minta) berdoa yang SIAP dan SERIUS. Nggak cuma (mengaku) serius saja. Kan jadi buang waktu dan energi bgt, ya.  Plus awal saya pengen nikah dulu ada temen liqo yg bilang, " Kalau ada yang maju, terima aja dulu
 Kalo bukan jodoh nanti Allah jauhkan kok. " Padahal nggak gitu loh semestinya. Saya nyesel nurutin nasihat itu.

Konflik jelang nikah mah ada aja ya, temen-temen. Luar biasa, deh. Mulai dari H-seminggu keluarga aa minta bajunya diganti, aula resepsi yang nggak bisa dipake padahal saat kabar ini disampaikan ke saya itu sudah hari Kamis dan kami akan resepsi hari Ahadnya.

Campur-campur, tapi Allah selalu menunjukkan cintaNya. Kemudahan demi kemudahan kami dapatkan. Acara lancar, nggak kekurangan satu apapun. Teman-teman dan keluarga datang. Huhu. Terharu. Ada yang jauh-jauh dari luar kota juga. Allah ngambil sesuatu untuk diganti dengan yang jauh lebih baik tuh bener banget kebuktian pas proses kemarin.

Hari itu rasanya nggak nyata. Kayak yang main - main aja. Nikah nikahan. Saya yang nggak pernah nyangka akan nikah, akhirnya menikah juga. Ketika saksi berkata, " Sah! " Saya hanya bisa mengucap satu kalimat, "Allahu akbar!" Setelah hamdallah, tentu. Nggak ada degdegan sebelumnya, sampai akhirnya saya melihat beliau dan rombongan datang. Lihatnya dari bagian bawah jendela kaca aja. Hehe. Trus mulai kesemutan sebadan-badan saat bapak penghulu datang. Dan semua terbayar saat beliau lancar mengikrar kabul dan saksi menyatakan " Sah ". 

Selama saya jadi anak papa, saya baru dua kali melihat papa menangis. Saat kakek meninggal dan di hari pernikahan saya. Suami saya cerita saat papa menjabat tangan aa, tangan papa bergetar hebat. Duh papa T_T 

Tugas papa dan mama selesai begitu saya menikah, tapi tugas saya nggak akan pernah selesai sampai kapanpun. Jadi nggak mungkin saya mengurangi bakti karena sudah nikah. Inshaa Allah.

Gitu ya, temen-temen. Apa yang sudah Allah takdirkan, nggak bisa kita buru-buruin dan nggak bisa kita tunda-tunda. Pertolongan Allah ga pernah tanggung-tanggung, saya dapat jodoh, dapat jalannya, bahkan dapat biayanya sekaligus. Mudah loh prosesnya. Nggak berbelit dan penuh drama.

Banyak orang bilang, " Ternyata jodohnya orang dekat. Kenapa ga dari dulu, ya?"

Ya, kalo kami bertemu dari dulu, belum tentu akan selancar ini. Bisa saja kami masih berego tinggi, idealis, belum siap budget, atau kendala lain.

Allah ngga pernah telat atau kecepetan mengabulkan doa. Tapi tepat pada waktunya. Pas. Presisi.

Kita hanya perlu sabar dan percaya.

Dan siapa sangka, saya mendapat suami yang selama ini saya fikir hanya ada di drama korea. Haha. 

Pihak yang terkaget - kaget bukan hanya satu atau dua loh, temen-temen. Mereka ikut bersuka cita. Ada aja yang julid, sih. Bilangnya, " Kok nikah sama ini? Kan sering cerita punya temen yang hebat dan keren. "

Sesungguhnya suamiku adalah pria terhebat dan terkeren dari semua yang pernah maju. 

#Haseum belagu pisan c uwi. Haha.

Sampai sekarang, kami masih adaptasi. Saya berusaha banget, bangun awal, masak sarapan ketika suami sedang mandi, baru bisa mandi setelah suami makan, dan ketika beliau berangkat kerja, saya baru bisa mandi, sarapan, dan siap-siap kerja. Soalnya beliau masuk jam 6 sedangkan saya jam 7.30 sih. Pulang kerja ga bisa leyeh-leyeh. Harus masak dan beres-beres. Mandi, shalat, makan, cuci pirjng dan beberes dapur. Habis isya sudah capek lalu pasti tidur awal. Alhamdulillah, suami saya mau repot-repot bantu kerjaan rumah dengan semangat dan wajah ceria. Huhu.

Perjalanan masih sangat panjang. Doakan saya dan suami agar rumah tangga kami barokah, ya. Aamiin...